Unit Investigasi Siber Kepolisian Provinsi Gyeonggi Utara resmi meringkus 16 tersangka yang terlibat dalam sindikat penjualan tiket konser KPop ilegal berskala besar. Ini terungkap lewat laporan yang dibuat oleh berbagai media di Korea Selatan kemarin, 11 Maret 2026.
Melalui laporan yang dibuat, disebutkan jika kelompok ini menggunakan program otomatis untuk memborong tiket konser KPop. Setelah memborong tiket tersebut, mereka menjualnya kembali dengan harga fantastis, bahkan hingga 25 kali lipat dari harga asli. Dari belasan tersangka tersebut, tiga pemimpin utama telah ditahan secara resmi atas tuduhan gangguan bisnis dan pelanggaran Undang-Undang Pertunjukan.
Hasil investigasi mengungkap bahwa sejak Oktober 2022 hingga Januari 2025, sindikat ini mengoperasikan grup media sosial rahasia beranggotakan ribuan orang untuk mengoordinasikan aksi mereka. Mereka berbagi program macro khusus, memantau tren harga, hingga menyusun strategi untuk menghindari pengawasan polisi. Tercatat ada lebih dari 190 konser yang menjadi sasaran, dengan total lebih dari 30.300 tiket yang berhasil mereka kuasai dan menghasilkan keuntungan ilegal mencapai 7,1 miliar Won (sekitar Rp83 miliar).
Beberapa konser besar yang menjadi korban praktik nakal ini di antaranya adalah tur dunia G-Dragon, BLACKPINK, hingga SEVENTEEN. Sebagai gambaran, tiket VIP konser SEVENTEEN di Incheon yang aslinya berharga ratusan ribu Won melonjak drastis hingga dijual seharga 5 juta Won (sekitar Rp58 juta) di pasar gelap. Konser penyanyi populer lain seperti IU dan Lim Young-woong juga tidak luput dari incaran sindikat yang sebagian besar anggotanya memiliki latar belakang di industri IT ini.
Dalam menjalankan aksinya, para tersangka menggunakan teknologi yang mampu melompati sistem antrean platform tiket, memilih kursi secara otomatis sebelum penjualan resmi dibuka, hingga melewati batas pembelian per akun. Polisi mulai mengintensifkan tindakan tegas sejak Agustus 2024 dengan bekerja sama bersama agensi HYBE untuk pemantauan langsung di lokasi konser serta berkolaborasi dengan platform penyedia tiket demi memutus rantai distribusi ilegal ini.
Saat ini, pihak berwenang Korea Selatan masih terus mengejar seorang pengembang program yang melarikan diri ke luar negeri melalui bantuan Interpol Red Notice. Kepolisian menegaskan akan terus menyelidiki jaringan calo domestik maupun internasional lainnya untuk memastikan lingkungan industri hiburan yang adil bagi para penggemar yang ingin menikmati karya artis idola mereka tanpa beban harga yang tidak wajar.
Vibers, temukan berbagai informasi seputar KPop lainnya bersama Vibrance di Google News.



