Drama terbaru IU dan Byeon Woo-seok, ‘Perfect Crown’, tengah mendapat kritik akibat penggambaran sistem monarki konstitusional yang dinilai bermasalah. Kritik tersebut mulai bermunculan di sosial media beberapa hari belakangan.
Ketidakpuasan penonton bermula dari premis “monarki konstitusional warisan Kekaisaran Korea” yang dianggap bertabrakan dengan logika sejarah maupun logika internal cerita itu sendiri. Salah satu poin yang paling disorot adalah penggunaan gelar “Raja” dan bukannya “Kaisar”, yang menurut kritikus justru membangkitkan ingatan akan diplomasi upeti di masa lalu yang tunduk pada tatanan Tiongkok.
Struktur kekuasaan dalam drama ini juga tak luput dari kecaman karena dianggap tidak setia pada pakem Dinasti Joseon. Meskipun secara historis kerabat dekat kerajaan dilarang keras mencampuri urusan pemerintahan, drama ini justru menampilkan paman raja sebagai wali penguasa. Hal ini membuat penonton curiga jika tim produksi lebih condong meniru struktur kekaisaran Jepang daripada tradisi asli Korea.
Begitu pula dengan peran tokoh perempuan kerajaan. Sosok Ibu Suri digambarkan tidak memiliki otoritas politik sama sekali. Padahal, dalam sejarah aslinya, Ibu Suri memiliki peran krusial sebagai wali ketika raja yang naik takhta masih berusia muda.
Kejanggalan sistem politik dalam ‘Perfect Crown’ semakin memicu perdebatan karena mencampurkan elemen republik demokratis dengan konsep jabatan Perdana Menteri yang turun-temurun hingga tiga generasi. Hal ini menjadi sesuatu yang dianggap sangat mustahil diterima oleh masyarakat modern. Selain masalah sistemik, detail-detail kecil seperti gelar anumerta yang konotasinya negatif, ketidakkonsistenan kostum dan ritual istana, hingga penggunaan simbol non-tradisional pada institusi kerajaan dinilai sangat merusak imersi penonton. Karakter utamanya pun dianggap kurang masuk akal, terutama saat menampilkan interaksi yang terlalu kasual antara rakyat jelata dan anggota kerajaan.
Pada akhirnya, gelombang protes ini muncul karena adanya jurang pemisah antara identitas drama yang mengaku berakar pada warisan Joseon dengan eksekusi lapangannya yang justru melenceng jauh. Banyak penonton berpendapat bahwa kontroversi ini mungkin tidak akan sebesar sekarang jika sejak awal tim produksi memilih latar dunia fiksi total daripada membawa-bawa referensi tradisi sejarah.
Kini, publik tengah menanti bagaimana pihak produksi akan menanggapi keresahan tersebut di tengah tingginya ekspektasi penonton terhadap akurasi sejarah dalam karya-karya bertema periode tertentu.
Vibers, temukan berbagai informasi seputar KPop lainnya bersama Vibrance di Google News.
