Meski dramanya telah resmi berakhir, gelombang protes terhadap kontroversi distorsi sejarah drama “Perfect Crown” ternyata masih berbuntut panjang. Kini, berbagai organisasi luar mulai mengambil langkah tegas untuk menarik diri dan menjaga jarak dari proyek drama tersebut.
Salah satu dampaknya terlihat dari keputusan Yayasan Kebudayaan Wanju. Melalui akun resminya pada 19 Mei, lembaga tersebut mengumumkan pembatalan total agenda wisata bertajuk ‘Perfect Crown Story Tour’. Semula, kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada 21 hingga 22 Mei.
Sedianya, program wisata tersebut akan digelar di sekitar kawasan Desa Hanok Jeonju dan Desa Hanok Soyang Oseong. Pihak penyelenggara awalnya telah menyiapkan serangkaian acara menarik untuk menarik minat wisatawan, seperti tur keliling ke lokasi syuting drama, sesi mendengarkan cerita sejarah bersama pemandu (docent), hingga workshop kerajinan tradisional.
Pihak yayasan menjelaskan bahwa program ini sebenarnya dirancang untuk mengenalkan arsitektur hanok khas Wanju dan potensi budaya lokal lewat konten pariwisata. Namun, setelah mempertimbangkan kritik keras dari publik dengan sangat serius, mereka akhirnya memilih untuk membatalkan proyek tersebut demi peninjauan yang lebih matang.
Sejak pertama kali mengudara pada 10 April hingga menayangkan episode terakhirnya pada 16 Mei, “Perfect Crown” memang terus menjadi sorotan negatif. Selain performa akting para pemainnya yang dinilai kurang memuaskan, gelombang protes terbesar datang dari ketidakakuratan data sejarah dan dugaan manipulasi sejarah yang ditampilkan dalam cerita.
Melihat kecaman masyarakat yang semakin masif, tim produksi hingga pemeran “Perfect Crown” sebelumnya sempat merilis permohonan maaf terbuka. Tim produksi juga berjanji akan merombak total bagian audio serta teks terjemahan yang bermasalah untuk keperluan siaran ulang, layanan VOD, maupun penayangan di platform streaming (OTT).
Vibers, temukan berbagai informasi seputar KPop lainnya bersama Vibrance di Google News.
